Monday, December 10, 2007
Hasil PEMIRA IKM FIK UI
1. Semua kandidat anggota BPM FIK UI (Rani ’05, Ade ’06, Dika ’07, Vinda ’07) berhasil menjadi anggota BPM FIK UI 2008 dengan perolehan suara mencapai batas minimal yaitu 30 suara untuk setiap kandidat.
2. Saudara Rian Agus Setiawan ‘05 berhasil menang (272 suara) atas Ferdias Ramadoni ’05 (164 suara) sebagai Ketua BEM FIK UI periode 2008, dengan 47 suara tidak sah
Semoga dengan terpilihnya orang-orang di atas dapat memberikan angin segar terhadap dunia keorganisasian di FIK UI, dan semoga dapat mengemban amanah yang dipercayakan terhadapnya dengan sebaik-baiknya.
Apakah Kita Seorang Pemimpin?
Seorang pemimpin dituntut untuk dapat mempengaruhi dalam menentukan tujuan sebuah kelompok atau organisasi yang ia pimpin, dengan kata lain harus memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik untuk dapat mempengaruhi orang lain. Kata “mempengaruhi” di sini memiliki konteks yang positif, yaitu dapat mempengaruhi orang lain untuk menuju pengembangan diri seoptimal mungkin sehingga pada akhirnya akan memajukan seluruh anggota kelompok. Seorang pemimpin dapat dikatakan sukses apabila dapat membuat orang lain yang berada di bawah kepemimpinannya itu menjadi orang yang sukses dan dapat mencapai tujuan kelompoknya.
Selain itu kepemimpinan juga sangat erat kaitannya dengan motivasi. Seseorang akan dikatakan menjadi pemimpin yang baik bila ia memiliki motivasi yang kuat untuk memimpin dan dapat memberikan motivasi kepada orang-orang yang dipimpinnya sehingga dapat bersama-sama mencapai tujuan kelompok yang telah disepakati bersama di awal terbentuknya kelompok tersebut. Motivasi adalah mengarahkan orang lain melakukan sesuatu karena mereka ingin melakukannya. Memberi motivasi mencakup kemampuan berkomunikasi, memberi contoh, memberi tantangan, memberi dorongan semangat, mendapatkan umpan balik, melibatkan diri, mendelegasikan, mengembangkan dan melatih, memberi informasi, memberi instruksi singkat, dan memberi ganjaran yang tepat.
Seorang pemimpin juga memiliki tanggung jawab untuk bisa membawa perubahan yang bertujuan memperbaiki kondisi kelompok dan budayanya yang dianggap menghambat dalam pencapaian tujuan sebuah kelompok. Salah satu ciri utama kepemimpinan adalah kesediaan mencoba sesuatu yang tidak pernah dicoba sebelumnya, karena dengan gaya kepemimpinan seperti inilah sebuah perubahan menuju keadaan yang lebih baik akan terlahir dengan menerima tugas-tugas yang menantang atau mengambil peluang-peluang yang belum pernah dicoba sebelumnya, namun seorang pemimpin juga wajib memiliki pikiran sehat yang realistis sesuai dengan kemampuan atau kondisi aktual yang ada di dalam kelompoknya sehingga seluruh kegiatan yang dilakukan oleh kelompok tersebut menjadi lebih efektif dan bermanfaat.
Memang tidak mudah menjadi seorang pemimpin sukses untuk membawa perubahan yang lebih baik dalam sebuah kelompok, seperti kata bijak berikut “tidak ada jalan yang aman untuk menjadi pemimpin yang baik. Anda tidak terus menerus menang, dan Anda harus belajar bahwa kegagalan adalah bagian dari permainan kepemimpinan asalkan Anda tidak membuat kesalahan dua kali, (Sir Colin Marshall)”. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana seorang pemimpin memiliki kesehatan spiritual yang selain dapat menjadi sebuah mekanisme koping sang pemimpin namun juga diharapkan kesehatan spiritual ini menjadi motivator terhadap seluruh anggota kelompok untuk bisa mencapai tujuan kelompoknya. Nah, sekarang tugas teman-teman semua sebagai calon pemimpin adalah untuk memilih ingin menjadi pemimpin yang sukses dalam mensukseskan diri sendiri dan orang lain, atau ingin menjadi pemimpin yang bahkan sangat kesulitan hanya untuk mensukseskan dirinya sendiri.
Wednesday, November 21, 2007
Essay LKSM dari TIM FIK UI (Ludi, Annisa, Doni, Rian, Nilandari, Dede)
Globalisasi seperti dua sisi mata uang, begitu banyak hal positif yang bisa didapat tapi di sisi lain tidak sedikit kerugian dan ketidakadilan yang kita dapatkan. Globalisasi menuntut perubahan pengaturan kebijakan perdagangan dan investasi sehingga para pemilik modal, teknologi dan tenaga kerja dapat berpindah dengan mudah antar wilayah negara. Di satu pihak globalisasi telah membawa berbagai kesempatan untuk pengusaha-pengusaha lokal yang tanggap dan siap memanfaatkan peluang. Tapi di lain pihak, globalisasi juga telah menerkam mangsa yang lemah dalam aspek pemanfaatan teknologi, penggunaan sumber kapital dan kepemilikan sumber daya manusia yang kapabel dan kompeten. Seorang pakar dunia dalam globalisasipun telah menyimpulkan bahwa globalisasi telah menimbulkan banyak kekecewaan karena efek berantai yang dihasilkannya di negara berkembang; meliputi kemiskinan, pengangguran, kepastian hidup, ketidakstabilan dan kerusakan lingkungan hidup.
Selayang pandang WTO
World Trade Organisation (WTO) atau Organisasi Pedagangan Dunia adalah badan antar-pemerintah, yang mulai berlaku 1 Januari 1995. Tugas utamanya adalah mendorong perdagangan bebas, dengan mengurangi dan menghilangkan hambatan-hambatan perdagangan seprti tarif dan non tarif (misalnya regulasi); menyediakan forum perundingan perdagangan internasional; penyelesaian sengketa dagang dan memantau kebijakan perdagangan di negara-negara anggotanya.
WTO merupakan metamorfosis dari Perjanjian Umum Bea Masuk dan Perdagangan atau GATT (General Agreement on Tariff and Trade) yang didirikan tahun 1947, sebagai bagian dari kesepakatan di Bretton Woods, Amerika. Sejak 1947 ada delapan perundingan dagang dimana Putaran Uruguay adalah perundingan paling akhir yang terpanjang (berlangsung dari September 1986 hingga April 1994), rumit dan penuh kontroversi sebelum melahirkan WTO. Berbeda dengan GATT yang menyusun aturan main di bidang perdagangan internasional, tetapi bukan sebuah institusi; sementara metamorfosisnya yaitu WTO adalah sebuah institusi dengan aturan yang jelas serta daya penegakan yang kuat.
Dengan disahkan berdirinya WTO, maka semua kesepakatan perjanjian GATT kemudian diatur di dalam WTO plus isu-isu baru yang sebelumnya tidak diatur seperti perjanjian TRIPs (Hak atas Kekayaan Intelektual yang terkait dengan perdagangan), Jasa (GATS lihat penjelasan mengenai sector jasa), dan aturan investasi (TRIMs). WTO mempunyai anggota 149 negara serta 32 negara pengamat yang sudah mendaftar untuk jadi anggota.
Perjanjian WTO mengikat secara hukum. Negara anggota yang tidak mematuhi perjanjian bisa diadukan oleh Negara anggota lainnya karena merugikan mitra dagangnya, serta menghadapi sanksi perdagangan yang diberlakukan oleh WTO. Karena itu sistem WTO bisa sangat berkuasa terhadap anggotanya dan mampu memaksakan aturan-aturannya, karena anggota terikat secara legal (legally-binding) dan keputusannya irreversible artinya tidak bisa ditarik kembali.
Perjanjian-perjanjian itu antara lain Perjanjian Umum tentang Barang tariff dan barang (General agreement on Tariifs and Trade/GATT) yang merupakan perjanjian umum mengenai liberalisasi barang. Terdiri dari beberapa perjanjian lagi di bawahnya seperti pertanian, inspeksi perkapalan, pengaturan anti dumping; tekstil dan produk tekstil. Perjanjian Umum Perdagangan Jasa-jasa (General Agreement on Trade in Services/GATS). Dalam perluasan akses pasar sector jasa, setiap Negara menyusun komitmen liberalisasi dan jadwal pelaksanaan untuk ‘seberapa banyak’ pemasok jasa dari luar dapat memberikan jasanya di lokal. (lebih detail lihat informasi dasar mengenai Jasa). Hak atas Kekayaan Intelektual yang Terkait dengan Perdagangan (Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights/TRIPS).
Fakta dan Realitas WTO
· WTO mempunyai mandat yang luar biasa dalam mengelola ekonomi global untuk kepentingan perusahaan multinasional (MNC) serta negara
MaMandat WTO adalah menciptakan, dan menjalankan peraturan perdagangan bebas menuju “dunia tanpa batas negara”. Akibatnya WTO mempunyai kekuasaan tidak hanya judisial tetapi juga legislatif. Artinya, hukum dan kebijakan nasional haruslah bersesuaian dengan perjanjian WTO, dan bila belum sesuai harus segera diubah.
· WTO adalah organisasi yang berbasiskan ‘aturan-aturan main atau rules’ yang merupakan hasil perundingan. Aturan tersebut disebut juga ‘perjanjian atau kesepakatan (agreements). Di atas kertas, perjanjian tersebut haruslah dihasilkan dari serangkaian perundingan yang yang dilakukan oleh semua Negara anggota, dan mencerminkan kebutuhan anggota (member driven). Realitasnya, perundingan dan penyusunan naskah awal kesepakatan ditentukan oleh faktor lain, yaitu kekuatan politik Negara-negara anggota. Di dalam WTO dikenal ada “power bloc” yang disebut quad terdiri dari Uni Eropa, Jepang, AS dan Canada. Walaupun pengambilan keputusan berdasarkan konsensus tetapi kekuasaan riel ada di tangan Negara-negara besar tersebut. Salah satu delegasi dari negara berkembang mengatakan, dalam proses menuju KTM Doha pada tahun 2001 misalnya, kita (negara-negara berkembang) disodori teks-teks “ajaib“, yang isinya muncul tiba-tiba dalam naskah awal tanpa ada perundingan sebelumnya. Tetapi di KTM Doha keadaannya lebih buruk, teks-teks bisa muncul tiba-tiba tanpa ada yang memasukkannya, dan pada hari terakhir sekeretariat WTO mengatakan “inilah hasil teks terakhir”.
· Arus barang, investasi dan jasa dibiarkan bebas tetapi arus teknologi dan tenaga kerja dibatasi, sementara dua hal terakhir diperlukan oleh negara sedang berkembang.
· Perjanjian WTO dianggap paling tinggi derajatnya oleh negara sehingga menegasikan semua perjanjian internasional lain, termasuk perjanjian lingkungan hidup. Demikian pula peran pemerintahan serta negara di tingkat local dan nasional dikalahkan oleh peran pasar dan perdagangan.
· Dapat diadakan pengaduan terhadap suatu negara (non-compliance) serta pengenaan sanksi berupa penalti dan retaliasi silang yang punya pengaruh luas.
· Disiplin dalam WTO mengikat secara hukum terhadap pemerintah yang sekarang maupun pemerintah di masa depan. Jadi meskipun sebuah partai politik oposisi kemudian menang, ia tidak bisa menjalankan kebijakan baru yang bertentangan dengan aturan-aturan WTO. Dengan demikian suatu negara tidak lagi mempunyai banyak pilihan kebijakan ekonomi.
Efek negative terhadap Negara lemah
Kesepakatan-kesepakatan di WTO ini bukan lagi hanya mengatur persoalan perdagangan, namun lebih jauh mengatur aspek-aspek hajat hidup manusia seluruh dunia contohnya produk AoA, kesepakatan di bidang pertanian sudah mengancam kedaulatan pangan di negara berkembang dan miskin. Hal ini disebabkan karena pertanian merupakan mata pencarian mayoritas negara miskin dan berkembang. Lebih jauh lagi pertanian di negara miskin dan berkembang berbeda secara karakteristik dengan negara maju. Karena di negara miskin dan berkembang berkaitan dengan masalah budaya yang dikerjakan secara kelompok keluarga, lebih difungsikan untuk kebutuhan sendiri dari pada sebagai komoditi perdagangan di negara maju.
Selain itu, WTO juga mengatur hak paten dan hak cipta dalam kesepakatan TRIPs.-Trade Related Intellectual Property Rights. Hal ini menyebabkan kekayaan budaya lokal akan musnah karena hanya menjadi komoditas perdagangan. Berkaitan dengan masalah hak paten di bidang pertanian, di negara maju sekarang ini memiliki perusahaan besar, Monsanto yang mengembangkan rekayasa genetika dibidang pertanian yang berakibat banyak petani dipenjara karena ketidaktahuan dalam mengembangkan inovasi dibidang pertanian. Hal ini sudah terjadi di Indonesia seperti yang diungkapkan Tempo Interaktif: Puluhan petani dan aktifis Masyarakat Peduli Petani (MPP) Kediri berunjuk rasa di bawah patung pejuang PETA, Suprijadi di Taman Sekartadji Kediri, Jawa Timur, Minggu (28/8). Mereka memprotes sikap arogan PT Benih Inti Subur Intani (BISI) Kediri yang telah menuntut hingga pengadilan memvonis hukuman penjara bagi Djumadi, 50 tahun, petani asal Desa Jobong, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri. Selain Djumadi, lima petani yang lain juga mendapat hukuman atas vonis Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Kediri.
Di bidang jasa WTO mengatur kesepakatan dalam GATS-General Agreement on Trade in Services, dimana GATS juga mengatur sektor kebutuhan dasar yang seharusnya dilindungi oleh negara. Contohnya pendidikan dan kesehatan. Apabila liberalisasi pendidikan ini diterapkan, maka pendidikan hanya dapat dinikmati oleh sedikit orang yang memiliki kemampuan ekonomi. Pendidikan gratis untuk rakyat hanya menjadi impian. Di bidang yang lebih berorientasi kepada pasar. Sebagaimana sektor pendidikan, kesehatan juga merupakan hak dasar yang harus dilindungi oleh negara. Bilamana kebijakan diserahkan pada orientasi pasar maka orientasi pengembangan obat-obatan tidak lagi ditujukan untuk memenuhi kebutuhan yang ada dimasyarakat contohnya penyakit-penyakit yang belum ditemukan obatnya contohnya AIDS, TBC, bahkan polio namun pengembangan lebih ditujukan pada orientasi pasar sehinngga seperti yang sekarang ini terjadi, misalnya obat-obatan pelangsing tubuh, pemutih kulit, yang tidak esensial bagi kebutuhan manusia.
Aksi Nasional Pendidikan
....Untuk membentuk suatu pemerintahan Indonesia yang melindungi segenap bangsa indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia...mencerdsaskan kehidupan bangsa!!
HIDUP MAHASISWA!!
Selama 3 tahun berturut – turut pemerintah telah melakukan pelanggaran terhadap konstitusi pendidikan kita dengan mengajukan RAPBN yang selalu di bawah 20% (APBN 2008 hanya 12%) dari total anggaran negara sebagaimana yang diamanatkan dalam UUD Negara Republik Indonesia 1945 dan pada tanggal 9 Oktober kemarin DPR telah menyetujui RAPBN yang diajukan Pemerintah. Dan ini berarti akan menjadi pelanggaran konstitusi yang keempat kalinya secara berturut – turut yang dilakukan Pemerintah.
Oleh karena itu perlu adanya sebuah pergerakan yang lebih besar dan aksi nasional yang akan diadakan di setiap daerah yang akan diadakan pada Selasa, 28 November 2007 yang merupakan sebuah bentuk komitmen sosial mahasiswa dan rakyat atas keresahan yang terjadi selama ini ketika kebijakan pembangunan tidak berorientasi kepada pembangunan SDM dan pendidikan.
Dengan telah disahkannya UU APBN 2008 yang inkonstitosional dan munculnya pembahasan RUU BHP yang dilandasi spirit komersialisasi pendidikan yang akan menjadikan pemerintah berlepas tangan secara finansial terhadap dunia pendidikan dan juga sebagai pintu masuk terhadap hegemoni asing dalam dunia pendidikan Indonesia, maka kami mahasiswa Indonesia dengan lantang mengingatkan kepada pemerintah dan DPR bahwasanya aksi ini merupakan sebuah langkah kecil untuk menentang skenario liberalisasi dan kapitalisasi pendidikan!
DWITURAMA (Dua Tuntutan Rakyat dan Mahasiswa) Terhadap Dunia Pendidikan Indonesia
Kami Mahasiswa dan Rakyat Indonesia Menuntut :
1. Hentikan agenda liberalisasi dan kapitalisasi pendidikan yang terkandung dalam RUU BHP.
2. Realisasikan anggaran 20 % pendidikan pada tahun 2008 sebagai wujud tanggung jawab dan kepatuhan negara terhadap konstitusi, dengan membatalkan APBN 2008, dan segera merevisinya.
-BEM Seluruh Indonesia-
Antara Aku dan Kamu
Kamu bilang aku begini?
Kamu bilang aku begitu?
Terkadang kamu bilang aku A
Terkadang B dan C
Aku hanya bilang itulah aku
Aku hanya seseorang mencoba untuk menjadi manusia
Manusia biasa yang punya kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri
Jika proses ini membuatmu tidak nyaman
INGATKAN AKU………..
Karena kalian KELUARGAKU
Teriring rasa hormat dan sayang kepada seluruh keluarga besar FIK UI
FERDIAS RAMADONI
YA atau TIDAK???
Pernah kau pikir bahwaku egois, ya/tidak?
Ada dalam pikirmu ternyataku keras kepala, ya/tidak?
Terlintas di asamu tuk jauhi diriku, ya/tidak?
Sering dalam hatimu tak nyaman dekatku, ya/tidak?
Kuakui itu semua memang aku adanya
Terlampau banyak telingamu dengar mulut besarku, ya/tidak?
Tak jarang tingkahku , membuatmu muak, ya/fidak?
Lagi-lagi kubenarkan bahwa itulah aku
Namun bila memang engkau anggapku salah satu saudaramu di sini, mengapa tidak kau coba tegur khilafku?
Ferdias Ramadoni
Minggu jam 10.00
Friday, August 24, 2007
Neo Kolonialisme dan Kapitalisme di Indonesia Raya
Indonesia memang belum benar-benar merdeka, ketika masih banyak rakyat yang kelaparan, yang tidak mendapat pendidikan layak, yang tidak memiliki kesempatan yang sama dalam mensejahterakan keluarga, yang selalu terbelenggu dalam tekanan-tekanan dari kaum berpunya. Mungkin benar penjajahan telah kembali ke muka bumi Indonesia tercinta, di mana dahulu tersohor dengan hasil buminya, yang didambakan dengan segala kebudayaan khas dan keramahtamahan penduduknya. Namun kini, semenjak penjajahan kembali terlahir dalam sebuah kemerdekaan yang kita sendiri menjadi tidak lagi mengerti makna nyata dari merdeka, satu persatu keadaan berbalik dan sedikit demi sedikit tercipta bias makna akan kemerdekaan.
Penjajahan telah mempersempit makna kemerdekaan dan tanpa disadari oleh kita telah memperluas makna penjajahan itu sendiri. Kemerdekaan hanya sebuah semboyan, hanya sebuah makna lisan yang menggambarkan sebuah kebebasan dalam kesenangan. Tidak sedikit dari para generasi muda yang terjebak dalam kemerdekaan semu, ketika kita berpikir bahwa jiwa-jiwa muda adalah jiwa-jiwa yang bebas dari tanggung jawab bermasyarakat, ketika kita berpikir bahwa kaum tua lah yang menjadi satu-satunya biang keladi dari semua keterpurukan bangsa, dan ketika kita tidak berpikir tentang apa yang dapat kaum muda lakukan untuk memperbaiki kondisi rakyat Indonesia.
Sekali lagi keadaan ini semakin buruk dengan ketidakpahaman kaum muda tentang bentuk-bentuk baru dan terkini dari penjajahan. Penjajahan intelektual yang sudah bisa kita rasakan berabad-abad lalu masih memiliki coretan-coretan nyata di tiap-tiap kepala anak negeri saat ini, dengan tidak terselenggaranya pendidikan gratis bagi mereka rakyat yang benar-benar tidak mampu secara finansial. Belum lagi penjajahan moralitas sebagai dampak dari pesatnya perkembangan tekbnologi informasi yang tidak terkontrol penggunaannya sehingga dengan mudah para generasi muda yang masih mencari jati diri itu terjebak dalam pornografi di dunia maya yang teramat sangat merusak moralitas bangsa kita. Masih banyak bentuk-bentuk penjajahan baru di negara ini, seperti penjajahan dalam pengembangan karakter, penjajahan tenaga kerja, penjajahan taraf kesehatan, penjajahan kesempatan hidup seperti aborsi dan bentuk penjajahan-penjajahan lain yang dengan tidak manusiawi telah merampas hak-hak yang paling asasi dari rakyat Indonesia.
Memang sepertinya kondisi ini telah diciptakan dengan sangat sengaja oleh orang-orang yang menginginkan kehancuran bangsa Indonesia, tidak dapat dipungkiri bahwa pengaruh dari kepentingan internasional sangat kuat dirasakan dalam atmosfir baik itu politik maupun ekonomi di negara kita. Ketika intervensi dari negara Singapura dengan DCA (Defense Cooperation Agreement) telah menginjak-injak kedaulatan negara kita dan sangat ironis kenyataannya bahwa penandatanganan perjanjian yang dilakukan oleh pemerintah itu tidak diketahui oleh kalangan DPR sebagai badan perwakilan dari seluruh rakyat yang hidup di Indonesia yang notabenenya akan menerima dampak langsung dari perjanjian yang sangat merugikan rakyat tersebut. Sangat membingungkan memang kenapa hal-hal seperti ini bisa terjadi dan hanya berlalu begitu saja, seperti telah menjadi sebuah kebudayaan ketika ada sebuah kesalahan besar dari pemerintah yang menyangkut hajat hidup rakyat luas maka di saat itu pula media seperti diatur untuk menyorot hal-hal lain sebagai pengalih perhatian dengan harapan kasus-kasus besar ini segera terlupakan.
Bangunlah Indonesiaku…
sudah waktunya mimpi-mimpimu diwujudkan
kami para pemuda bersedia menjadi garis terdepan perjuanganmu
relakan keringat-keringat kami mebasahi jalan-jalan
sebagai bukti perjuangan menuju perubahan yang lebih baik
kami lelah wahai Indonesiaku…
lelah melihat ketidakadilan dan kesewenangan terhadap saudara kami
belum cukupkah wahai Indonesiaku…
ketika banyak dari bagian tubuhmu yang dengan sengaja dirusak
oleh tangan-tangan kekuasaan yang berkhianat
mengkhianati KONSTITUSI
masih sanggupkah engkau wahai Indonesiaku…
memikul beban-beban sebagai buah dari keserakahan sekelompok orang
orang-orang yang dengan mulut manisnya semula berjanji
tapi dengan segala tindak tanduknya kemudian sangat menyakiti
berjuanglah bersama kami Indonesiaku…
tanpa perjuangan tidak akan terlahir sebuah perubahan
berubah menjadi lebih bijak, lebih kuat, dan lebih melindungi
bukankah untuk itu dirimu merdeka wahai Indonesiaku…
untuk menjadi Indonesia yang adil dan makmur selamanya
Wednesday, August 22, 2007
Idealisme Abadi
Langit semakin suram dalam kepul asap yang meninggi
Masih kebanyakan manusia membutakan mata dan hatinya
Agama semakin kotor di tangan para munafik
Budaya pun semakin tak berestetika dalam hausnya nafsu dunia fana
Sampai di sini masih kebanyakan pemuda berpaling dari hadapannya
Di saat yang sama di sisi lain belahan bumi
masih ada sekelompok kecil manusia yang banyak pemuda di dalamnya
memiliki idealisme sejati demi ketenangan hati nurani
meski harus teriris jiwa dan raga oleh kejamnya dunia
Monday, July 23, 2007
Kasus DCA: Haruskah Kedaulatan Ditukar dengan Koruptor
Namun ada beberapa hal yang patut kita cermati sebagai rakyat di sebuah negara yang berdaulat penuh atas wilayahnya. Pertama, dalam DCA disebutkan bahwa Indonesia tidak diperbolehkan mengelola sumber daya alam yang terdapat di wilayah perairan tempat latihan yang secara nyata masih merupakan bagian dari wilayah NKRI yang biasa disebut dengan area Bravo. Bagaimana Negara Indonesia bisa disebut sebagai Negara yang berdaulat jika tidak dapat memanfaatkan kekayaan alam yang ada di dalam wilayahnya sendiri, dan yang juga tidak terlupakan adalah bagaimana nasib para nelayan yang biasa mencari ikan dan hasil laut lain yang ada di area Bravo tersebut? Bukankah ini merupakan suatu pembodohan yang dilakukan oleh pihak luar terhadap bangsa kita?
Kedua, DCA bisa dibilang tidak pula berpihak kepada Indonesia karena di dalamnya hanya memuat aturan-aturan latihan perang bagi tentara Singapura di Indonesia tanpa adanya sedikitpun memuat aturan-aturan latihan perang bagi TNI di Singapura. Jika seperti ini kondisinya bagaimana dapat dipastikan bahwa TNI bisa mengambil banyak pelajaran dari teknologi canggih yang dimiliki Singapura bila tidak ada aturan latihan bagi TNI apalagi aturan untuk mendapatkan akses alat utama sistem persenjataan (Alutista) modern milik Singapura?
Ketiga, dengan adanya DCA ini otomatis begitu banyak perlengkapan militer Singapura yang canggih akan masuk ke dalam wilayah Indonesia, sehingga dengan sangat mudah pihak luar dapat mendeteksi dan mengintai segala rahasia pertahanan RI. Dan perlu digarisbawahi pula bahwa bukan rahasia lagi Singapura memiliki hubungan dekat dengan AS dan Israel, bahkan teknologi militer beserta intelejen yang dimiliki Singapura merupakan bantuan militer dari Israel, jadi tidak menutup kemungkinan kedua Negara tersebut dapat dengan leluasa memanfaatkan DCA untuk kepentingan mereka.
Adapun masalah yang berada diluar isi DCA yang patut juga untuk dicermati adalah keberanian pemerintah RI yang menandatangani DCA tanpa memberitahukan terlebih dahulu atau bahkan tanpa persetujuan DPR, sungguh keberanian yang terlalu pantas untuk dipertanyakan. Padahal jelas tertera pada UUD 1945 pasal 11 ayat (1) dan (2) yang mengatakan bahwa presiden harus meminta persetujuan DPR terhadap setiap perjanjian dengan negara lain yang terkait peperangan maupun perdamaian apalagi perjanjian yang (a) menimbulkan akibat luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat (b) menyangkut keuangan negara (c) perjanjian itu mengharuskan adanya perubahan Undang-undang.
Mengapa pemerintah dapat se”nekat” itu dalam menandatangani DCA yang sebenarnya malah membahayakan kedaulatan bangsa dan kesejahteraan rakyat? mungkin ada kaitannya dengan usaha pemerintah dalam mengatasi korupsi di negara tercinta ini karena ternyata perjanjian Singapura-Indonesia tidak hanya sebuah DCA saja, bersamaan dengan DCA ternyata ditandatangani pula Perjanjian Ekstradisi yang dengan sengaja dipaketkan dengan DCA. Perjanjian Ekstradisi ini diharapkan dapat membuat para koruptor yang bersembunyi di Singapura kembali ke Indonesia untuk diadili. Namun lagi-lagi usaha pemerintah ini tidak menguntungkan Indonesia karena sesuai dengan pernyataan Menlu bahwa berdasarkan perjanjian ini tetap saja uang haram yang berasal dari Indonesia tidak dapat dikembalikan lagi ke Indonesia. Jadi dengan singkat dapat kita simpulkan bahwa kedaulatan Indonesia tercinta telah ditukar dengan jasad-jasad hidup para koruptor yang mungkin sudah tidak berguna lagi untuk diadili karena sudah tidak ada lagi uang rakyat yang dapat dikembalikan untuk mensejahterakan anak bangsa berikutnya.
Friday, May 25, 2007
Terima KAsih atas dukungannya
dukungan rekan-rekan mhsiswa FIK-UI
yang telah mencoblos kandidat ketua
BEM FIK-UI no.1 pada ajang PEMIRA...
saya tidak akan mengecewakan
kepercayaan rekan-rekan semua...
walaupun saya saat ini belum
berkesempatan menjadi ketua BEM tapi
saya akan tetap memberikan kontribusi
terbaik yang bisa saya berikan untuk
FIK-UI tercinta...
semoga dengan terpilihnya ketua BEM
FIK-UI yang baru (Purba A'04) kita
semua dapat membangun FIK-UI menjadi
lebih baik lagi di masa mendatang...
best regards,
FERDIAS RAMADONI
Kapankah Ia Datang
tak dapat kupahami lagi sebagai sebuah esensi yang terdalam dari hati...
sekian lama ruang kosong ini seolah tak berpintu
namun.....
sekejap entah mengapa tiba-tiba ada sebuah hembusan yang memenuhi ruang ini
tak seperti yang biasa, hanya lewat sesekali tak memberi arti..
kali ini menyisakan sebuah asa yang telah lama menghilang...
tak dapat kusadari, kapan ia benar-benar hadir di sini, di ruang kosong di hati ini...
Wednesday, April 25, 2007
Mancari Wajah Baru Teater Indonesia
Mengaca pada acara pemberian anugerah Federasi Teater Indonesia (FTI), ada sesuatu yang menggelitik yang perlu dicermati. Para penerima FTI Award tidak perlu diragukan lagi sumbangsihnya bagi dunia teater. Dari sisi itu, tak ada yang patut dipersoalkan.
WS Rendra jelas merupakan sosok pahlawan di bidang seni teater. Dialah yang menempatkan teater pada posisi yang semestinya. Wajar jika Anugerah Utama FTI diberikan kepadanya.
Kesembilan peraih gelar maestro juga punya alasan yang kuat menyandang gelar maestro. Mereka adalah Asrul Sani, Teguh Karya, Arifin C Noer, Usmar Ismail, Suyatna Anirun, Wahyu Sihombing, Tuti Indra Malaon, Rudjito, dan Djayakusuma. Merekalah yang merintis teater moderen di Indonesia.
Lantas, apa yang menggelitik? Coba saja cermati lebih seksama nama-nama tadi. Rendra sudah memasuki senja usia. Sedangkan, kesembilan maestro telah menghuni alam keabadian. Generasi muda?
Penggiat teater dari kalangan generasi muda sebetulnya banyak juga. Dindon WS, ketua Komite Teater, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), mengungkap faktanya. ''Hampir tiap daerah, mulai dari Jakarta, Riau, hingga Sulawesi, punya kelompok teater yang bagus,'' katanya.
Di Jakarta, tiap wilayahnya juga punya kelompok teater yang benar-benar hidup. Sejumlah nama penggiatnya bisa disebut. ''Ada Bambang Priyadi, Manahan Hutahuruk, Malhamang Zam Zam, Edi Yan, dan Agus Smoke,'' urai Dindon.
Di luar Jakarta, kelompok teater cukup banyak. Hanindawan (Teater Gidag Gidig, Solo), Yudi Tajudin (Teater Garasi, Yogyakarta), Rachman Sabur (Teater Payung Hitam, Bandung) termasuk di antara para penggiat. ''Hanya saja, mereka kurang terekspos oleh media,'' sesal Dindon.
Penggiat teater di daerah, lanjut Dindon, sedikit kurang beruntung lantaran tak memiliki banyak sparing partner. Sebab, tokoh senior yang tinggal di luar Jakarta bisa dihitung dengan jari. ''Tetapi, bukan berarti secara kualitas teater di Jakarta lebih bagus.''
Tiap pekerja teater punya kekuatan yang khas. Tak semua sutradara mampu menulis naskah. ''Corak warna teater Indonesia juga dimeriahkan dengan ekspresi artistik serta ideologi kesenian yang berbeda,'' komentar Dindon.
Meski luput dari sorotan media, penulis naskah maupun sutradara teater terus tumbuh. Bisa dipastikan, tak ada pembinaan yang diperlukan untuk menyuburkan bibit-bibit muda tersebut. ''Di dunia teater, kami tak mengenal pembinaan. Yang ada, membina diri sendiri,'' cetus Dindon.
Pembinaan macam apapun diamati Dindon tidak akan membuahkan penggiat teater. Mereka yang ingin menjadi pekerja teater mesti maju, mencerdaskan diri, serta mengasah kepekaannya sendiri. ''Pekerja teater tidak bisa dicetak atau dipupuk.''
Meski begitu, Dindon tak menampik perlunya pembinaan dalam bentuk lain. Seperti yang dilakukan Komite Teater DKJ. ''Pembinaan paling sebatas memberikan sarana dan membuka lingkungan untuk menstimulasi perkembangan dunia teater.''
Ratna Sarumpaet sepakat dengan pemikiran tersebut. Hanya saja, mantan ketua Komite Teater DKJ itu menyayangkan belakangan tak lagi muncul figur-figur baru penggiat teater. ''Setelah Dindon, sepertinya rantai penggerak teater terputus,'' sesalnya.
Ratna tak mengerti mengapa fenomena itu terjadi. Padahal, ia lihat kelompok-kelompok teater masih terus bergeliat. ''Karya generasi muda memang ada yang bagus. Namun, mereka belum bisa mengekspresikan diri lebih, di luar dunia kesenian. Justru itulah yang dibutuhkan untuk menjadi seorang dramawan handal,'' komentar pendiri Teater Satu Merah Panggung.
Melihat kecenderungan pemikiran pendukung teater, hati Ratna teriris. Pasalnya, cukup banyak orang yang terjun ke dunia teater dengan harapan bisa menjadi pemain sinetron atau film. ''Teater cuma dianggap sebagai batu loncatan.''
Federasi Teater Indonesia (FTI) termasuk organisasi yang getol melakukan pembinaan insan teater. Aktivisnya malah tak ragu menggandeng kalangan profesional non seniman untuk bermain teater sekaligus mempopulerkan teater. ''Secara berkala kami juga melakukan pementasan sebagai bentuk uji coba. Ini semacam laboratorium teater. Pemain nantinya akan mendapatkan masukkan yang diharapkan bisa memperbaiki kualitas permainan mereka,'' kata Radhar Panca Dahana, ketua FTI, beberapa waktu lalu.
FTI, lanjut Radhar, juga kerap mengadakan workshop. Keberadaan FTI yang digagas oleh para penggiat teater di Jabodetabek pada akhir 2004 dianggap penting. ''Federasi ini bertujuan untuk memajukan teater Indonesia yang memang tak mengalami kemajuan. FTI bekerja membantu organisasi pementasan, peningkatan kemampuan aktor, serta mencoba memperlancar interaksi dengan institusi pemerintah,'' ujarnya.
Seni teater memang belum begitu populer di masyarakat. Padahal, begitu diperkenalkan, ada saja orang yang kemudian jatuh cinta kepada seni pertunjukkan ini. Pengalaman Adnan Ilham membuktikannya.
Adnan mengaku, dalam 29 tahun usianya, baru sekali ia menonton teater. Kesempatan pertama diperolehnya secara tak sengaja. Sepulang kerja, seorang temannya mengajak Adnan mampir ke Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Malam itu (18/3), Mahkamah --buah karya maestro teater, Asrul Sani-- dipentaskan.
Adnan terkesan dengan pementasan Mahkamah. Bukan cuma permainan Ray Sahatepy dan Mutiara Sani yang dikaguminya. ''Jalan ceritanya sangat menggelitik. Semestinya orang dapat mengambil manfaat dari kisah Saiful Bahri, si tokoh utama. Sayang, penonton seperti belum ter-edukasi,'' katanya.
Meski baru sekali melihat pentas teater, Adnan bisa bertutur kritis tentang etika menonton teater. Ia menyamakannya dengan pertunjukkan orkestra yang jauh lebih dipahaminya. ''Saya pikir semestinya tak berbeda jauh dengan orkestra. Ada aturan kapan harus bertepuk tangan dan larangan bersuara keras,'' katanya.(reiny dwinanda )
Monday, April 2, 2007
Tae Kwon Do adalah....???
Wednesday, March 28, 2007
Sekilas Potret Teater di Indonesia
TTA menampilkan alur cerita yang ditulis oleh Putu Wijaya dan disutradarai oleh pendiri dari TTA, Jose Rizal Manua. TTA didukung pula oleh tim sukses yang terdiri dari Santi Diansari sebagai pimpinan proyek, Peggy Melati Sukma sebagai project officer dan juru bicara, Garin Nugroho sebagai penasehat, Alika Chandra sebagai pimpinan produksi, serta beberapa personil lainnya.
Semua kelompok teater yang mengikuti festival ini memiliki prestasi terbaik dari tingkat dunia dan berhasil lolos seleksi dari 60 teater anak-anak di seluruh dunia. Teater Tanah Air dapat lolos seleksi pada tahun 2004 dengan menjuarai festival teater anak-anak tingkat Asia Pasifik di Jepang, dan pada kesempatan tersebut telah berhasil mendapatkan medali emas, sehingga dapat masuk sebagai anggota Organisasi Amatir Teater International.
Sampai sekarang pun teater binaan Jose Rizal Manua ini secara rutin tampil di berbagai negara sebagai tamu yang diundang untuk dapat menampilkan karya-karya yang khas dari dunia anak-anak, namun karena para pemainnya masih merupakan siswa sekolah maka tidak semua undangan dari berbagai negara itu terpenuhi, disesuaikan dengan jadwal pendidikan para pemainnya.
Friday, March 23, 2007
Self Defense (Hosinsul)
Tuesday, March 20, 2007
Prestasi dan Semangat Berlatih
sumber:komite olahraga nasional
Sunday, March 4, 2007
Fenomena Kesehatan Indonesia
Hal-hal seperti inilah yang membuat kita, bangsa Indonesia, tidak pernah siap dalam bidang apapun untuk menjadi bangsa yang mandiri termasuk dalam bidang kesehatan dan kesejahteraan sosial. Saat ini Indonesia menjadi salah satu sumber tenaga kerja di bidang kesehatan khususnya perawat dalam ruang lingkup internasional. Hal ini masih sebatas karena upah para pekerja Indonesia yang relatif lebih rendah bila dibandingkan dengan upah pekerja dari Negara lain seperti Philipina. Namun hal inilah yang menjadi cambuk bagi para praktisi dan para pendidik di bidang keperawatan untuk lebih meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan baik di luar maupun di dalam negeri.
Masalah yang sangat mendasar dalam usaha perbaikan mutu pelayanan keperawatan adalah adanya dualisme dalam penyelenggaraan pendidikan untuk menjadi perawat. Departemen Kesehatan yang banyak mendirikan Akper yang para siswanya berasal dari masyarakat umum di rumah sakit milik pemerintah merupakan sebuah bentuk pelanggaran undang-undang yang tidak disadari atau mungkin pura-pura tidak sadar, karena dalam undang-undang pendidikan jelas tertulis bahwa hanya Departemen Pendidikan yang secara legal boleh menyelenggarakan pendidikan untuk masyarakat umum, dan departemen atau kedinasan lain hanya boleh menyelenggarakan pendidikan semata-mata untuk kepentingan mereka sendiri dan pesertanya juga harus dari kalangan mereka sendiri dan bukan masyarakat umum, salah satu contoh pendidikan yang boleh diselenggarakan oleh departemen selain Departemen Pendidikan adalah dalam bentuk diklat-diklat yang bertujuan meningkatkan kualitas para pegawai di departemen atau kedinasan tersebut jadi pesertanya pun para pegawai dari departemen atau kedinasan tersebut dan bukan masyarakat umum. Lagi-lagi hal ini disebabkan oleh oknum yang menyalahgunakan kekuasaan yang mereka miliki untuk mengeruk keuntungan dan mengabaikan kepentingan masyarakat luas. Dualisme dalam tubuh kependidikan keperawatan ini sungguh menjadi dilema yang sangat menghambat perkembangan kualitas pelayanan keperawatan itu sendiri.
Namun bagaimana pun bila kita bandingkan antara perkembangan pelayanan kesehatan dengan tingkat kesehatan masyarakat Indonesia secara luas akan terlihat suatu fenomena yang cukup aneh, karena ternyata berkembangnya mutu pelayanan kesehatan di klinik-klinik dan rumah sakit-rumah sakit di Indonesia tidak diiringi dengan meningkatnya tingkat kesehatan masyarakat Indonesia. Penyakit-penyakit infeksi dan menular cenderung meningkat di masyarakat seperti demam berdarah, malaria, dan yang sedang popular saat ini yaitu flu burung meningkat dengan cepat dan makin banyak memakan korban, di samping itu penyakit-penyakit seperti polio pun mulai berjangkit kembali setelah sekian lama tidak menjangkiti masyarakat kita. Begitu banyak faktor yang mempengaruhi tingkat kesehatan dalam suatu masyarakat, karena kesehatan merupakan makna dasar suatu kehidupan dan begitu banyak aspek yang mempengaruhi kehidupan itu sendiri sehingga dapat mempengaruhi keadaan kesehatan suatu masyarakat serta individu-individu yang ada di dalamnya. Faktor-faktor tersebut antara lain faktor ekonomi, sosial, politik, dan pelayanan kesehatan tentunya, mari kita kupas lebih dalam lagi setiap faktor-faktor tersebut.
Indonesia terkenal di mata dunia sebagai Negara yang senang berhutang pada bank dunia, hal ini dijadikan senjata oleh para kaum kapitalis yang ingin mencaplok Indonesia dengan cara memberikan pinjaman-pinjaman finansial yang membuat para pejabat kita meneteskan air liur keserakahan mereka, padahal pada hakikatnya Indonesia tidak membutuhkan pinjaman-pinjaman yang hanya membuat anak cucu kita dibebani hutang yang mereka sendiri tidak merasakan manfaatnya, dan pada akhirnya pemerintah tidak mampu membayar kembali hutang-hutang tersebut dan dengan ringannya mereka (pemerintah) menjual aset-aset Negara kepada pihak asing untuk melunasi hutang kepada pihak yang juga membeli aset Negara tadi. Benar-benar hanya rakyat Indonesia-lah yang tinggal menikmati mahalnya listrik, air minum, dan jasa telekomunikasi yang telah berpindah tangan ke pihak asing. Dari sinilah semua penderitaan masyarakat Indonesia dimulai, bagaimana mungkin tingkat kesehatan meningkat jika untuk memenuhi kebutuhan primer seperti air bersih, makanan yang layak, dan berbagai kebutuhan sehari-hari sudah sangat sulit, bagaimana mungkin tingkat kesehatan akan meningkat bila untuk mandi, cuci, dan kakus saja harus menggunakan air sungai yang penuh dengan sampah dan bibit penyakit karena air bersih begitu mahal untuk didapat.
Thursday, March 1, 2007
Cerita Saja
dimana seorang pemuda beranjak dewasa
ingin menggapai apa yang ada dalam asa
meskipun tahu harus mengorbankan miliknya
gelombang ombak menghempas batu karang
membawa buih ke tepi bertemu pasir pantai
tanpa sadar membuat sang pemuda dekat dengan harapan
meski perih menghadang namun tak jua gentar tuk menerjang
seketika terdiam terpaku hanya diam membisu
detak jantung tiada irama tak karuan dibuatnya
hanya mata dapat terbuka tanpa mulut yang berkata
hati bimbang tak mengerti apa arti semua ini'
sedikit demi sedikit mulai terasa
loncatan asa dari dalam dada
ahh... mungkin ini yang orang banyak bicarakan
tentang hati yang lelah berlayar
namun tanpa sengaja menemukan sebuah dermaga
Thursday, February 22, 2007
DATANG LALU DATANG LAGI
Udara mulai dingin dan mengetuk tulangku
Sayup terdengar gemuruh di kejauhan langit
Cahaya kilat terlihat menerangi awan yang semakin gelap
Akankah ia datang lagi seperti kedatangannya kemarin
Atap-atap mulai terlihat lebih tua
Jalan-jalan pun dipenuhi oleh lingkaran hitam dimana-mana
Baju ini pun mulai basah dibuatnya
Berlarian sekelilingku mencari tempat berlindung
Seketika ia bertambah besar dan semakin kasar
Membuat genangan mulai terlihat dimana-mana
Tak dapat kumengerti tiada pula kupahami
Mengapa hal ini selalu terjadi lagi
Apakah tak tahu, tak mau, atau tak mampu
Mengatasi dilemma dalam fenomena ini
Belum cukupkah ketakutan
Belum cukupkah penderitaan
Atau masih haus akan ribuan peringatan lagi